Selamat Datang!!!

selamat datang, Kawan di blog saya, Kertas Putih!!

saya informasikan kepada kalian semua bahwa saya bukanlah penulis yang baik.

saya menulis di blog ini hanya untuk menyalurkan pemikiran saya yang mungkin dapat dijadikan renungan bersama atau hanya dijadikan hiburan semata.


akhir kata,

Kertas Putih ini hanyalah sederhana.

Sabtu, 14 Agustus 2010

SEMARANG I'M IN LOP

sebenernya saya harusnya mengepos ini jauh dari sebulan yang lalu, tapi karena keterbatasan waktu, tempat dan modem,jadilah saya baru bisa bercerita.

ini ceritanya:



Ini adalah cerita singkat perjalanan saya ke semarang demi menjenguk pacar saya yang luar biasa ngangenin nya. Kita sebut saja namanya Ugra.

Niatan ke semarang dalam rangka mengobati penyakit Malarindu ini memang sudah lama saya rencanakan. Mengapa oh mengapa? Bayangkan saja, saya sudah tidak bertemu si Ugra itu selama 4 bulan lebih! Sangat menyiksa bagi saya yang jujur saja, sulit menerima keadaan “Jauh Jarak Hubungan” atau nge-trend nya disebut eLDeeR (penyakit alay saya kambuh lagi).

Rencana saya disambit baik oleh sahabat saya yang cantik nan perkasa, Ratri. Dia mau menemani saya untuk pergi menemui sang Kekasih Hati.
Berbekal restu orang tua, pacarnya Ratri, uang paspasan, rindu berlebihan, dan rasa cinta yang mendalam, jadilah saya berangkat bersama Ratri ke Semarang. Kami naik kereta Fajar Utama jurusan Semarang Tawang seharga 100 ribu rupiah.

Ini, Kawan, sahabat saya yang cantik nan perkasa, Ratri Kartika Widya 






Kami berangkat dari stasiun Senen jam 8 pagi sampai Semarang Tawang jam 4 kurang.
Ini yang aneh. SAYA DEG DEGAN. Sungguh. Rasanya jantung saya bekerja terlalu cepat yang mengakibatkan saya merasa nyawa saya ketinggalan di Tangerang atau dimana lah itu. Saya degdegan ketemu Ugra. Norak sekali. Sahabat saya seolah tahu gelagat labil saya, lantas menanyakan, “Nir, lo deg degan ya?” sial banget ketauan gw, batin saya memaki. Saya membalas dengan muka saya yang cegegesan (saya sarankan untuk tidak membayangkan wajah cegegesan saya). Terus dia mengetik sesuatu di hp nya, tak lama dia memberikan hp ny ke saya. “Baca, nih.”

Tulisan di layar hp merah nya Ratri:
From: ugra

Iya, rat. Gw deg degan. Hhe.

Oh tidak, ternyata pacar saya juga labil.

Saya pun tambah deg degan dan juga mual. Sungguh sangat amat norak. Saya tak sabar bertemu dengan Si Pangeran itu (tolong jangan ikutan mual. Harap maklum, namanya juga jatuh cinta). Saya gelisah berkepanjangan. Kerjaan saya di kereta cuma benerin jilbab, ngelap muka pake tisu, minum. Terus terusan sampe akhirnya saya kembung dan sadar bahwa mau jilbab saya serapi apapun dan muka saya udah lecet gara2 dilap mulu, kalo kodratnya jelek mah jelek aja, saya pun duduk (belaga) tenang.

Kereta pun berhenti. Saya dan Ratri pun sampai di stasiun Tawang. Dada saya semakin berdebar pada detik detik pertemuan itu, seperti apakah kekasih hati saya itu? Tampankah ia? Tambah wangi kah ia? Rindukah dia kepada saya? Apakah dia membawa bunga untuk menyambut kedatangan saya? Atau malah spanduk seperti rombongan menjemput jemaah haji bertuliskan “ WELCOME MY LOVELY NIER”? (sekali lagi mohon pengertiannya, saya hanya anak muda yg sedang bergembira)

Sms demi sms pun terkirim dan diterima tapi tetap saja saya belum bertemu dengan pacar saya. Wah.. asal kalian tahu, saya gelisah luar biasa. Antara kebelet ketemu Ugra dan kebelet pipis (ini serius, bisa tanya Ratri). Mungkin ada sekitar 5 menit lebih kami saling mencari di stasiun Tawang yang semstinya ga gede gede amat.
Sungguh, jika di flash back, keadaan saya waktu itu mirip adegan waktu Lulu Tobing mencari Ari Wibowo di sinetron Tersanjung. Saya di utara, Ugra berlari ke selatan. Saya ke hutan, Ugra ke pantai. Pokoknya gitu deh, ga ketemu temu.

Akhirnya kami memutuskan untuk berinisiatif keluar stasiun. Dan JENG JENG JENG. Disitulah pangeran hati saya berdiri. Dengan jaket hijau, kaos loreng2, rambut gondrong, wajah tidak bertambah tampan, tidak membawa bunga, ataupun spanduk. Belakangan saya tahu, ternyata dia juga memang belum mandi ketika menjemput saya, pantas saya mencium sensasi kecut kecut pahit gitu. Untung saja dia masih menyimpan rasa sayang dan rindu hanya untuk saya. Unyuuuuuuuuuu…… :3

Hal pertama dia yang dia lakukan adalah mengusap-usap kepala saya. “Akhirnya, tuanputrinya sampe juga.”, katanya sambil tersenyum.

Demi langit, Kawan. Saya kegirangan. Senaaaaaaaaaaaag sekali bisa bertemu dengan Ugra setelah sekian lamanya. Mungkin kawan kawan yang berkomitmen LDR tahu bagaimana rasanya. Badan saya serasa terbang. Isi perut saya seakan terbalik. Wajah saya kemungkinan merah padam karena memang malu tak tertahankan.

Saya salting.

Heemmm.. sayang, saya bukanlah penulis yang baik, yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan saya pada waktu itu. Tapi intinya, sungguhlah sangat bahagia bisa merasakan nikmat kasih sayang Tuhan lewat makhluk-Nya, pada kasus ini ya rasa sayang kami berdua, dan juga kasih sayang sahabat saya yang sungguh sangat mau mengerti kebutuhan sahabat kecilnya ini yang sungguh merindukan sosok Ugra itu.

Terima kasih, Tuhan 




Ditulis dengan rasa bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar