Selamat Datang!!!

selamat datang, Kawan di blog saya, Kertas Putih!!

saya informasikan kepada kalian semua bahwa saya bukanlah penulis yang baik.

saya menulis di blog ini hanya untuk menyalurkan pemikiran saya yang mungkin dapat dijadikan renungan bersama atau hanya dijadikan hiburan semata.


akhir kata,

Kertas Putih ini hanyalah sederhana.

Jumat, 28 Januari 2011

"Akulturasi" Hormon Remaja dan Adegan Sinetron

Sore ini saya ke sebuah mall di kota saya, saya ke tempat makan siap saji yang maskotnya adalah kakek kolonel tua dengan setelan putih berkacamata dan berkumis itu *pasti tau lah apa ya :)

Namanya malem minggu, tempat itu "super rame 2010" kalo kata anak-anak jaman sekarang, walau saya tau kebanyakan dari mereka beli paket yang gocengan, sama seperti saya.
Nah, seperti yang kita tau, malem minggu itu adalah waktu yang ditunggu-tunggu kebanyakan anak-anak muda.
mengapa eh mengapa?
karena mereka bisa hengot (hang out) bareng temen-temen mereka ataaaaaaaau........
PACARAN.
( ya ga ya ga ya ga?? biasanya kan gitu.)

Nah, entah mengapa, di sekitar saya banyak sekali pasangan muda-mudi yang sedang bercengkrama *bukan mencengkram satu sama lain yah, itu namanya percobaan pembunuhan.
Saya pun jadi sensi, karena walaupun saya punya pacar, tapi pacar saya jauh, jadi saya ga pernah malem mingguan. nasib LDR begini nih (OK, sebaiknya saya sudahi curcol saya.)

Diantara banyak pasangan muda-mudi itu, ada pasangan yang menarik perhatian saya.
Sebenernya sih biasa aja, tapi karena saya emang lagi ga ada kerjaan dan lagi duduk sendiri aja kaya kambing congek, inilah hasil pengamatan saya:


Muda-mudi itu tampak sperti perwujudan 'anak SMA' bagi saya. Mereka duduk persis di meja setelah saya. Saya menghadap ke arah mereka, sehingga saya bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Demi langit, Kawan.
Saya mual bukan buatan.
Entah karena saya sudah tak pernah melakukan apa yang mereka lakukan *tuh kan curcol lagi.
atau, karena memang pembicaraan mereka itu berakibat kepada peningkatan zat asam lambung yang membuat usus terasa melilit.

Kita namakan saja si perempuan dengan "Mudi" dan yang lelaki, " Muda", ini adalah pembicaraan yang saya dengar dengan jelas (jelas-jelas membuat saya mual) :

Mudi: beibi, aku boleh maem es klim kamu ga? (ini beneran loh, si Mudi mengganti huruf "R" dengan pengucapan "L" -___-" )
Muda: jangan sayaang, ak ga ngebolohin.
Mudi: uuuuh kenapa ciih? (ini juga benar. "S" dibaca "C" )
Muda: iyaa soalnya kamu kan udah manis, kalo makan yg tambah manis, kamu bisa disemutin.
aku ga tega.
Mudi: aaaah kaamuu.. bica aja, aku kan jadi maluu.. bener juga ya beibi, nanti kalo aku disemutin gawat.uuuh ga mau dicemutin aaah..


damn.damn.damn.damn.damn.damn.damn.damn.damn.
Silakan berkomentar sendiri.
Saya tidak mengada-ada, Kawan.
Memang seperti itu pembicaraan mereka.
Pembicaraan tadi hanya seberapa kecil persen dari pembicaraan mereka yang lain, dengan tipe pembicaraan yang kurang lebih sama.
Bisa-bisa nya itu mereka senewen gara-gara hipotesis berlebihan di Muda tentang "Konsumsi Es Krim Berlebihan Kepada Kekasihku, Mudi, Berakibat Disemutin" itu.

Diluar akal sehat, diluar akal sehat memang.

Tapi, tunggu dulu.
Bukan itu hal yang menarik, Kawan.
Keajaiban hormon "dunia milik berdua" itu bukanlah klimaks nya.

Setelah lama saya (mau tak mau) mendengar hampir semua dari percakapan mereka, tiba-tiba terjadilah hal biasanya hanya kita lihat di dunia sinetron.
Ini sungguh menarik dan ajaib.

Si Mudi yang tadinya lutcu, imyut, manja, dan menderita penyakit "cadelisme" akut itu, mendadak jadi panas, ganas, dan beringas setelah si Muda menyebut nama seorang perempuan, kalau saya tidak salah namanya Farah atau siapaa gitu saya lupa.

Dia mulai ribet, rese, menyanyakan hal-hal yang menurut saya menggangu si Muda, kaya "kamu masih smsan ya sama dia? kamu pasti masih suka ketemu ya sama dia? aku ga suka.. blaa.. blaaa.. blaa.." (kali ini semua pengucapan benar sesuai EYD.)

Asumsi sok tau saya sih, si F itu mantan pacarnya si Muda.

Teruuuuuus...... si Mudi gencar menanyakan pertanyaan-pertanyaan kaya penuntut umum memojokan si tersangka di pengadilan. Si Muda, muka nya pun mulai berubah, yang tadinya sok cool, santai aja sama pertanyaan pacarnya yang "ga nyantai", jadi nyolot dan mulai menjawab semua pertanyaan kekasih hatinya itu.

Teruuuuus... Si Mudi bertanya, memojokan, ambil handphone nya Si Muda *kayanya sih mengecek inbox Si Muda.
Si Muda pun mulai terlihat gerah, mulai gerak-gerak ga jelas, duduk ga tenang, pandangan mata menyebar kemana-mana dan si Mudi masih sibuk ngoceh, sampai dia terlihat sangaaaaaaaaaaaaaaattttt terganggu dan bilang, "Yaudah sih beib, bawal banget sih lo."

Si Mudi berhenti dari aktivitas "mencari bukti" nya, terdiam sejenak, menatap si Muda, dan............


SPLAAAAAASH!

Yak, segelas float yang tadi ada di meja mereka pindah ke muka si Muda yang ga ganteng-ganteng amat itu.
Si Mudi menguyur kekasih hatinya dengan segelas float lima ribuan itu.

"Aku benci kamu. Kita putus."

Si Mudi pergi begitu saja dengan cepatnya meninggalkan Si Muda.
Si Muda lantas langsung mengejar kekasih hatinya itu walau dengan keadaan berwarna merah, basah,dan lengket *float lima ribuan itu rasa stroberi.


Mirip. Mirip sekali dengan adegan sinetron Indonesia yang sekarang sungguh sangat mewabah.

Saya sebagai saksi mata, hanya bisa terbelalak melihat keajaiban hormon remaja itu.
Sungguh benar, dampak media itu sangat luar biasa.
Sungguh reaktif.

Saya jadi berpikir, malang sekali generasi muda sekarang.
Disuguhi tontonan-tontonan yang berakibat cenderung negatif.
Ya salah satu buktinya tadi.

Saya mulai membayangkan, bagaimana nasib anak-anak lainnya?
mengingat, sudah hampir tidak ada tontonan yang sesuai untuk usia mereka.
Hampir semua tontonan anak-anak didominasi dengan sinetron, infotainment atau acara musik yang sedang "happening" itu.

Tak bisa saya bayangkan lagi seperti apa anak-anak dan remaja 5 tahun atau 10 tahun kedepan, jika media sebagai salah satu sarana pembelajaran mereka masih menampilkan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai yang seharusnya mereka teladani?

Miris, sungguh miris.

Pertanyaan-pertanyaan sok kritis saya terhenti karena ucapan seseorang di belakang saya, "untung aja makanan udah dibayar, kalo gak bisa kejar-kejaran tuh sama kasir."

Yah, semoga saja pertanyaan-pertanyaan saya tadi bisa dijawab oleh remaja 5 -10 tahun kedepan dengan sikap dan ucapan yang "sesuai".

Untuk sekarang, saya hanya bisa tertawa.
Adegan tadi cukup mengobati kepenatan saya dari urusan perkuliahan yang cukup menguras otak,tenaga, dan hati.
Semoga saja Si Muda-Mudi baikan.
Semoga mereka jodoh.
Semoga ibunya Si Muda ga ngomel, baju anaknya kotor.
Semoga baju Si Muda yang ketumpahan float bisa bersih lagi.
Semoga Si Mudi sembuh dari penyakit "Cadelisme" nya itu.

Amin. Amin.Amin.